Label

Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Cepat Sadar


         
Astaghfirullahal ‘adzim, itu kata-kata yang harus sering aku lantunkan. Apa lagi saat ini ketika hati ini benar-benar terasa tak menentu. Sesak rasanya. Pikiran tak konsen untuk belajar. Walau aku tahu sebenarnya pikiran ini tidak boleh, apalagi dengan tujuan awalku disini. Ketika tujuan awal tak benar-benar terjaga. Walau kesadaran ada tapi percuma.
            Aku tahu, ketika ku berharap atau memberi harapan untuk orang lain belum tentu orang tersebut begitu. Begitupun ketika hati dan pikiran kucurahkan untuk dia tapi belum tentu dia memikirkan dan mencurahkan hatinya untukku.

Minggu, 24 Maret 2013

Mengharap Perubahan Cepat




Penyesalan dalam diri ini, timbul dan sangat mendesak dada ini serta terasa sakit bagai batu yang menghimpit diri ini. Perasaan ini timbul hingga mengada-ada perasaan yang lain seperti takut, minder semua yang buruk menjadi satu, tak tahu kapan ini berakhir. Aku harap secepatnya ini berakhir. timbul tanda tanya besar dalam diriku. Kenapa aku harus menyesal? Apakah dengan penyesalan semua akan baik-baik saja? tidak kan,,, jadi aku benar-benar harus berubah, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya hari demi hari, jam demi jam bahkan detik demi detik agar waktu tak terbuang sia-sia. Masih panjang masa depanku dan semua impianku yang belum tercapai. Masih banyak tak ada kata menyerah dan berhenti bahkan sedetikpun.

SALAH: Mengharap orang lain


Aku salah, telah berbohong pada diriku sendiri. Sesuatu yang telah ku ikrarkan kini tak ku jalani sama sekali. Tak tahu mengapa dengan diriku ini, ada tanda tanya besar tentang diriku sendiri. Masih ada perasaan takut di diri ini, masih ada kebimbangan dan kebingungan dalam diriku. Ingin ku benar-benar menghilangkan itu semua tapi entah mengapa perasaan itu membelenggu dalam diri ku. Mengkengkang seluruh raga, jiwa, pikiran serta hatiku.
Ada kebutuhan dalam sebagian diriku, ku butuh seorang guru untuk menjalani kehidupan ini tapi seorang guru yang satu-satunya dekat dengan ku dan aku telah memberikan kepercayaan penuh kepadanya, sekarang dia menghilang bersamaan dengan kepergiannya membangun mahligai pernikahan di kampong halaman tulang rusuknya. Perasaan yang terlalu kuat ini membelengguku dalam suatu kepercayaan yang semu. Ingin ku mandiri tanpa harus bergantung kepada siapapun. Tapi diriku masih saja terpurk dalam penyesalan yan tak kunjung ku temukan semangatku.
Aku juga yakin aku pasti bisa merubah diriku menjadi orang super.  tetapi hal tersebut tidak di dukung oleh sikap ku sendiri yang seperti tak tahu arah dan tujuan. Padahal selama ini ku banyak dukungan oleh kawan–kawan baruku, kawan-kawan yang ku temui saat ini, begitu optimis, menjadi aktivis yang tak melupakan juga akademisnya. Rasa itu masih melekat,  aku takut kalau mereka berkianat. Inginku percaya pada mereka semua, tapi perasaan trauma yang pernah ku alami begitu mendalam. Seseorang yang telah ku percaya sepenuhnya dia menghianati kepercayaanku. Sekarang seperti ku tak bisa mempercayai seseorang lagi.
Aku tahu itu salah, maka dari itu ingin ku berubah sepenuhnya menjadi seorang yang baru dengan ide kreatif dan penuh manfa’at.


Perubahan dimulai dari Diri Sendiri