Label

Jumat, 04 April 2014

PENETAPAN HARGA

A.   Pengertian Penetapan Harga
Harga adalah jumlah uang yang bersedia dibayar oleh pembeli dan bersedia diterima oleh penjual. Sementara itu laba adalah jumlah uang yang bersedia dibayar oleh pembeli dan bersedia diterima oleh penjual.[1]
Harga berpengaruh langsung terhadap laba usaha. Laba usaha diperoleh dari pendapatan total dikurangi biaya total. Pendapatan total terdiri dari harga per unit dikalikan kuantitas yang terjual. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Laba = Pendapatan – Biaya Total
(Harga per unit X Kuantitas yang terjual - Biaya Total)


Dari sudut pandang konsumen, harga seringkali digunakan sebagai indikator nilai bilamana harga tersebut dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu barang atau jasa. Nilai (value) dapat didefinisikan sebagai rasio antara manfaat yang dirasakan terhadap harga atau dapat dirumuskan sebagai berikut : Nilai= Manfaat Yang Dirasakan / Harga.[2]

Senin, 24 Maret 2014

PRODUK HUKUM ISLAM DALAM PERUNDANG-UNDANG DI INDONESIA (PERADILAN AGAMA & HUKUM KELUARGA)


BAB I
PENDAHULUAN
 1.1    Latar Belakang
Kelembagaan hukum Islam di Indonesia mengalami perjalanan yang sangat alot. Keinginan masyarakat Indonesia untuk memiliki hukum perkawinan secara tertulis yang isinya merupakan wujud dari hukum-hukum perkawinan yang telah berlaku di dalam masyarakat, baik itu hukum perkawinan adat maupun hukum perkawinan menurut ketentuan agama yang ada. Keinginan ini sudah muncul pada masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan seterusnya sampai pada masa kemerdekaan. Harapan memiliki hukum perkawinan tertulis tersebut baru dapat terwujud pada awal tahun 1974, dengan disahkannya Undang-Undang No: 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Keberhasilan yang dimulai dengan dibentuknya UU No. 1 tahun 1974 yang telah mengalami proses 24 tahun sejak mulai perancangan,[1] disusul dengan UU No. 7 tahun 1989 yang secara resmi mengakui eksistensi Peradilan Agama serta disusul oleh perundang-undangan lainnya. Namun, secara keseluruhan, peraturan-peraturan yang diraih hukum Islam itu belum bisa memuaskan kebutuhan masyarakat. Hal menimbulkan tidak adanya kepastian hukum di lingkungan peradilan ini. Kenyataan-kenyataan ini mengharuskan dibentuknya sebuah unifikasi hukum Islam yang akhirnya berhasil disahkan pada tahun 1991, yakni Kompilasi Hukum Islam yang diberlakukan oleh Inpres No. 1 tahun 1991.

Minggu, 23 Maret 2014

Cepat Sadar


         
Astaghfirullahal ‘adzim, itu kata-kata yang harus sering aku lantunkan. Apa lagi saat ini ketika hati ini benar-benar terasa tak menentu. Sesak rasanya. Pikiran tak konsen untuk belajar. Walau aku tahu sebenarnya pikiran ini tidak boleh, apalagi dengan tujuan awalku disini. Ketika tujuan awal tak benar-benar terjaga. Walau kesadaran ada tapi percuma.
            Aku tahu, ketika ku berharap atau memberi harapan untuk orang lain belum tentu orang tersebut begitu. Begitupun ketika hati dan pikiran kucurahkan untuk dia tapi belum tentu dia memikirkan dan mencurahkan hatinya untukku.

Selasa, 31 Desember 2013

UAS Filsafat Ilmu



Nama                          : Ria Nuris Samawati
NIM                            : C53212074
Kelas/ Sem                 : Siyasah Jinayah B / Dua
Mata Kuliah               : Filsafat Ilmu
Dosen Pembimbing    : Dr. H. Imam amrusi Jailani, M. Ag.

Tulisan Arab Halaman: 67-68
الاصناف من الاشياء ظواهر في مفهوم هو سرل, لكنها أساس لمفهو مه[1]
نقطة البد , الفلسفي السحيح هي الا نتباه إلى الشعور أو الذات, كما فعل ديكارت, و كان هوسرل يسمي الفلسفة أحيانا((علم الشعور)). يجب أن أبذر الشك المنهجي في كل شيء من حولي و في كل ما لدي من أحكام, و أن أنتبه إلى الأفكار cogitationes التي أعانيها, و هذه لا تقل يقينا عن الكوجتو ذاثه, وسوف أكون أكثر اهتما ما بأفكاري من ياء المتكلم. إن الشعورهو داثما شعور بشيء, إذ لا معنى لفعل فكزي دون أن تكون هنالك أفكار, ولا معنى لرغبة دون وجود أشياء كموضوعات رغبتي, وتلك الأفكار و الرغبات الخ هي محتوى content الأفعال الشعورية أو الأفعال العقلية من ادراك و تخيل و تذكر و رغبة و إصدار أحكام. يسمي هذا الموقف (( القصد )) أو التوجّه intention و هو خاصة أساسة للشعور[2]. الانطباعات الحسية جزء من ذلك المحتو, لكنا لا ننظر فيه من حيث ارتباطه بالعلم الخرجي , وإنما من حيث صلته بالشعور والأفعال العقلية . لا ننظر في الادراك مثلا كفعل موجّه إلى أشياء خارجة عنا , و إنما ننظر فيه من الداخل : نريد ادراك الادراك ذاته أو ادراك التذكر ذاته أو فعل الحكم ذاته , و هكذا. فاذا نظرنا إلى محتوى أفعالنا الشعورية منعزلة عن الانطباعات الحسية , جاء المحتوى قبليا . إن الأفعال العقلية و موضوعاتها القبلية إنما هي الخبرات بالمعنى الصحيح , و هي المعرفة الأولى الضرورية و اليقين المطلق , وهي (( الأشياء ذاتها )). و من ثم يرفض هوسرل التمييز الكنطي بين الظواهر و الاشياء في ذاتها, لأنه لا تمييز بين الظاهر و الحقيقة في الشعور و أفعاله و حالاته : حقيقتها هي نفس ظهورها.